![]() |
| Sumber foto : sutterstock.com |
Istilah "Indigo" pertama kali diperkenalkan pada akhir 1970-an oleh seorang konsultan spiritual atau cenayang sekaligus pengamat aura bernama Nancy Ann Tappe. Ia mengembangkan sebuah sistem yang disebut Life Colors, yaitu metode membaca kepribadian seseorang melalui warna auranya. Ia mengklaim memiliki kemampuan "melihat warna aura" pada diri seseorang. Ia merasa melihat banyak anak-anak dengan warna aura biru nila (indigo), warna yang menurutnya belum pernah dominan sebelumnya.
Walaupun populer, klaim tentang indigo tidak diakui dalam psikologi modern. Banyak ciri yang disebutkan justru mirip dengan sifat anak berbakat atau neurodivergent (misalnya ADHD - Attention Deficit Hyperactivity Disorder : gangguan perkembangan saraf yang ditandai pola kesulitan fokus, hiperaktif dan impulsif-), sehingga istilah indigo lebih bersifat kultural dan spiritual, bukan ilmiah.
Di pertengahan November lalu, Indonesia digegerkan dengan video viral dari seorang anak yang disebut anak indigo bernama Rival Altaf. Dalam video yang beredar luas di media sosial menarasikan bahwa anak indigo membantu Tim SAR dalam penentuan titik lokasi korban tertimbun bencana longsor di desa cibeunying, Majenang - Cilacap.
Sontak aksi tersebut langsung menjadi bahan perbincangan khalayak, sebagian warganet memuji kemampuannya dan menyebut sebagai berkah di tengah bencana, dan sebagian lain mengingatkan agar tetap mengandalkan metode pencarian standar.
Istilah anak indigo di indonesia, justru lebih mengacu layaknya cenayang, dukun atau peramal. Anak atau orang yang "mengaku" indigo meng-klaim bahwa mereka dapat melihat atau berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata, melihat kejadian masa lampau, meramalkan peristiwa yang akan terjadi dan bahkan yang paling mencengangkan adaalah dapat berkomunikasi dengan arwah orang yang sudah meninggal.
Tentunya sebagai negara mayoritas muslim, hal tersebut di atas sangat bertentangan dengan ajaran islam. Bahkan, Ustadz Khalid Basalamah menyebutkan bahwa hal ini merupakan sebuah penyakit. Penyakit yang datangnya dari syetan untuk menyesatkan manusia. Semua klaim kemampuan spesial anak indigo itu bisa terjadi karena syetan yang membantu mereka mencuri dengar berita dari langit, dan syetan pula yang membuat mereka dapat melihat dan berkomunikasi dengan jin. Hal ini dapat dikatakan sebagai ujian bagi kita umat islam karena mampu menggoyahkan akidah.
Dalam islam sendiri, indera ke enam atau yang kita kenal dengan indigo di Indonesia, dapat pula merupakan Anugerah dari Allah, jika ditandai dengan orientasi tauhid Illahiah, dan diberikan kepada orang Sholeh. Sehingga untuk membedakan apakah itu ujian/penyakit atau merupakan anugerah, harus dibaca lewat perspektif Al-quran, hadis dan ruqyah syari.
Berdasarkan wawancara singkat dengan seorang narasumber yang memiliki seorang anak berusia 11 tahun. anak tersebut dianggap indigo oleh lingkungan sekitarnya karena dapat melihat makhluk tak kasat mata dan mampu merasakan akan adanya peristiwa besar dalam keluarganya. Namun narasumber selaku ayahnya sendiri menyangkal dengan tegas jika anaknya adalah anak indigo atau sejenisnya, seperti yang dikatakan orang-orang. Meskipun beliau tidak menampik bahwa anaknya memiliki kemampuan tersebut. Melainkan menurut beliau, anak tersebut pernah mengalami gangguan jin berupa sihir di masa balita-nya. Beliau mengetahui benar bagaimana kronologi gangguan tersebut. Sehinga dapat menyimpulkan bahwa kemampuan tersebut adalah efek jangka panjang dari gangguan sihir yang dapat disebut sebagai ujian atau penyakit yang harus diobati.
Namun bagi kebanyakan orang, justru hal tersebut diangap sebagai sebuah kelebihan, sebuah keajaiban yang dibanggakan, dimanfaatkan untuk mencari pembenaran, bahkan tak jarang digunakan untuk mencari penghasilan. Dalam hal ini para pelaku dan yang mengaku indigo, sangat menikmati ketenarannya, menikmati popularitas dan pundi pundi uang yang terus mengalir dari para konsumennya, yaitu masyarakat Indonesia yang terus dibodohi dengan cerita yang tak tentu kebenarannya dan tak dapat dibuktikan kebenarannya. Tentunya hal tersebut adalah tujuan dari syetan untuk semakin menyesatkan manusia guna menyekutukan Tuhan-nya dengan memodernisasi perdukunan dengan istilah-istilah yang lebih "pintar".
Di zaman modern ini, tentunya masyarakat kita cenderung merasa atau mengaku lebih pintar dari generasi lampau. Mereka tidak akan mau percaya atau datang ke seorang dukun yang sedang membakar kemenyan di rumahnya, yang ada di perkampungan. Namun masyarakat kita cenderung lebih percaya dan mau untuk datang kepada seseorang yang mengaku cenayang, indigo, peramal dan lain sebagainya, yang membuka praktik layaknya klinik kesehatan di ruko-ruko dan bahkan di gerai yang ada di pusat perbelanjaan. Dengan metode baca aura, khodam, zodiak, kartu tarot dan banyak media syirik lainnya guna menyamarkan praktik perdukunannya, yang berujung pada kesyirikan.
Maka dari itu, dengan peluang menjadi korban kebohongan yang sangat besar, korban finansial dan sudah pasti dapat menggerus iman kita, menjerumuskan dalam kesyirikan yang merupakan sebuah dosa besar yang tak terampuni. Apakah kita tetap akan menormalisasi hal-hal yang menurut kita hal kecil tersebut, yang justru menjerumuskan kita kepada dosa besar?
Wallahu a'lam
-Agus Prasetyo


Post a Comment for "INDIGO : Anugerah atau Gangguan Syetan?"