Rabu pagi, 17 Desember 2025, Masjid Al Hikmah di Kampung Sinumbra, Desa Indragiri, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menjadi saksi hadirnya harapan di tengah hamparan kebun teh yang hijau membentang. Gerimis tipis turun perlahan, diselimuti kabut lembut yang menggantung rendah, seolah ikut menyambut langkah para relawan Rumah Zakat Bandung yang menembus dingin pagi demi satu tujuan: kesehatan warga.
Masjid yang berdiri sederhana di tengah perkebunan teh itu pagi ini terasa lebih hangat. Bukan karena cuaca, melainkan oleh kehadiran puluhan warga yang datang dengan penuh harap. Mayoritas peserta Program Sapa Dokter untuk Warga (SADEWA) adalah buruh tani dan buruh pabrik teh—mereka yang setiap hari bergelut dengan alam, usia, dan keterbatasan. Lansia dengan langkah perlahan, serta ibu hamil yang tak lagi muda, duduk sabar menanti giliran untuk diperiksa.
Sebanyak 84 warga hadir mengikuti layanan kesehatan SADEWA. Tak berhenti di sana, kepedulian juga mengetuk pintu dua rumah warga yang tak mampu datang ke lokasi. Dokter dengan penuh empati menyambangi langsung, memastikan bahwa jarak dan kondisi fisik tak menjadi penghalang untuk memperoleh hak atas layanan kesehatan.
Di tengah kegiatan, suara harapan datang dari tokoh masyarakat setempat. Ketua RW Kampung Sinumbra menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran Program SADEWA. Ia berharap layanan ini dapat dilakukan secara rutin, mengingat akses warga menuju fasilitas kesehatan sangat terbatas. Jarak ke rumah sakit yang jauh, ditambah biaya yang tak terjangkau, menjadi beban berat bagi masyarakat yang sebagian besar hidup dalam kondisi ekonomi menengah ke bawah, bahkan dhuafa.
“Program seperti ini sangat dibutuhkan warga kami,” ungkapnya. “Bagi masyarakat di sini, kehadiran dokter bukan sekadar layanan medis, tetapi juga bentuk kepedulian dan penguatan mental.”
Di antara kabut dan gerimis Rancabali, Program SADEWA bukan hanya membawa obat dan alat kesehatan, tetapi juga menghadirkan rasa didengar, diperhatikan, dan ditemani. Di Masjid Al Hikmah pagi itu, kesehatan menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya kembali harapan—bahwa mereka tidak sendiri, dan masih ada tangan-tangan peduli yang bersedia hadir, sejauh apa pun jaraknya.


Post a Comment for "Di Tengah Kebun Teh dan Keterbatasan, SADEWA Menyalakan Harapan Sehat"